dia
“Kembalilah kau kekasihku, jangan putuskan kau tinggalkan aku. Sekalipun seringku menyakitimu, tapi hanya kaulah pengisi hatiku”
Ini kisah hidup gue, kisah yang gak beruntung. Gak seberuntung kisah pasangan kekasih yang mengakhiri masa lajangnya dengan duduk bersanding di pelaminan. Saling bertatap mata tanda bahagia. Disaksikan ratusan pasang mata untuk mengikat janji suci. Cincin yang melingkar di jari manisnya ataupun di jari manisku. Yaa, kisah ini gue mulai hanya bermodal kepingan hati gue yang telah retak. Bukan karena wanita yang sangat gue cintai mematahkan semua angan-angan masa depan gue. Bukan karena wanita yang amat sangat lembut hatinya menodai kesucian cinta kasih gue. Bukan juga karena dia membagi hatinya dengan sosok laki-laki lain. Bukan. Gue tulis semua kalimat hampa penuh makna ini dengan penuh rasa penyesalan. Gue tau penyesalan gak akan pernah berarti apa-apa. Penyesalan hanya akan membuat luka seseorang bertambah perih. Penyesalan juga gak akan bantu gue mengembalikan dia, wanita yang sangat gue cintai. Seandainya waktu bisa gue putar, gue bakal balik secepat mungkin ke masa lalu. Ke masa 5 tahun lalu saat-saat bahagia gue bersama dia, wanita yang sangat gue cintai. Gue sadar, sesadar-sadarnya kalo emang dia yang terbaik di hidup gue. Dia yang mampu buat hidup gue berwarna. Dia yang mampu mengerti segalanya. Dia yang mampu mengobati semua rasa sedih yang ada. Dia mungkin bukan wanita sempurna, tapi dia mampu membuat hidup gue sempurna. Bodohnya, mengapa gue sia-siakan dia, wanita sebaik dia. Wanita yang gak pernah ngeluh sama keegoisan gue. Wanita yang gak pernah menaruh rasa benci saat berulang-ulang gue goreskan luka di hatinya. Dia tetap menerima apa adanya. Mencintai dengan setulus hati. Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku yang telah melepasmu demi cinta yang lain. Semoga engkau bahagia, kekasih terbaikku. Bersamanya...
#inspiration from Vidi Aldiano – Cemburu Menguras Hati


Komentar
Posting Komentar